Rabu, 20 November 2013

Maafkan Aku Alamku



Alamku...
Aku sadar betapa bodohnya aku...
Saat kubiarkan manusia biadap itu melukaimu
Aku hanya bisa terdiam,
Jeritan dan rintihanmu tak dihiraukan..

Dimana-mana terjadi banjir
Disana-sini lautan pasang
Kemana hijaunya bumiku..
Yang kulihat hanya bumi yang kelabu..

Hanya rasa malu yang singgah dihatiku,
Ingin rasanya aku menebus semua kesalahanku
Tapi kuragu melakukan itu
Takkan mungkin ku biarkan
Makhluk biadab itu terus menyiksamu...

Resapan Air



Penanaman pohon di sepanjang jalan dapat menambah rindang dan mengurangi karbondioksida yang dikeluarkan kendaraan-kendaraan. Penanaman pohon juga dapat meresap air sehinggadapat  mengurangi kebanjiran. Karena dengan menanam pohon, kita dapat mencegah dan mengurangi pemanasan global.

Faktor yang menentukan peresapan air ke dalam tanah :
  • Kondisi tanah. Tanah berpasir yang gembur lebih mudah menyerap air daripada tanah yang banyak mengandung lempung. Untuk faktor ini, manusia dapat mengurangi peresapan air melalui cara pemadatan tanah, atau menutup permukaan tanah dengan material yang kedap air seperti menutup permukaan tanah dengan semen.
  • Kondisi permukaan tanah. Permukaan tanah yang ditumbuhi rumbut atau belukar lebih banyak menyerap air daripada tanah yang tanpa rumput/belukar atau rumput/belukarnya jarang. Manusia dapat mempengaruhi faktor ini dengan cara memelihara rumput/belukar, atau menghilangkan rumput/belukar.
  • Besarnya kemiringan lereng permukaan tanah. Tanah dengan sudut kemiringan lereng yang lebih kecil lebih  mudah menyerap air daripada tanah dengan sudut kemiringan lereng lebih besar. Manusia dapat mempengaruhi faktor ini mengurangi kemiringan lereng, seperti dengan membuat lahan berteras.
  • Vegetasi penutup. Tanah yang banyak ditumbuhi pohon lebih banyak menyerap air daripada tanah sedikit atau tidak ditumbuhi pohon. Manusia dapat mempengaruhi faktor ini dengan menanam atau memelihara pohon untuk mengurangi aliran permukaan, atau menebang pohon yang dapat meningkatkan aliran permukaan.
Kerusakan hutan tropis yang terjadi di berbagai negara di dunia semakin meningkat dari tahun ke tahun dan bahkan dalam dua atau tiga decade yang akan datang diperkirakan akan mengalami ancaman kepunahan yang disebabkan karena penebangan liar dan eksploitasi hutan.

Penggunaan Kembali Kresek yang Telah Dipakai




          Pernahkah saat berbelanja di pasar atau di swalayan anda ditanya, “apa anda punya uang kecil?”, hmm.. selaluuu, karena ini sudah jadi tradisi di Indonesia. Tapi apa pernah anda ditanya, “apa anda membawa kresek?”, sudah pasti tidak pernah. Padahal, pernahkah anda berfikir bahwa kresek itu tidak ramah lingkungan,?? Karena bahan plastik yang digunakan tidak seperti bahan organik, sampahnya susah terurai bila di buang. Pernahkah kita menghitung jumlah plastik yang dikeluarkan setiap harinya?? Milyaraaaan !!
          Sayangnya, kita justru sering melupakan dampak negatif penggunaan tas plastik. Memang tas plastik bekas sebagian akan terurai dalam bentuk karbondioksida, air, dan kompos dalam waktu satu atau dua bulan. Namun, kita juga perlu ingat akan kandungan kimia dalam kantong plastik yang dapat menyebabkan keracunan. Salah satu yang paling berbahaya adalah tinta tas plastik.


          Tas plastik bekas dan limbah-limbah plastik lainnya juga banyak dibuang ke laut sehingga banyak membunuh hewan laut. Tampaknya kita harus memikirkan dampak-dampak negatif dari penggunaan tas platik untuk menjaga kelestarian lingkungan sebelum semuanya terlambat. Mulailah gunakan bahan-bahan yang lebih cepat terurai seperti kertas, atau bahkan aneka bahan alami lainnya. Nah, sudahkah Anda peduli dengan alam sekitar? Alam adalah hidup kita, jadi rawatlah baik-baik alam kita dengan mengurangi sampah kresek salah satunya.
Sebaiknya supermarket dan minimarket di Indonesia juga mulai  mencontoh hal seperti ini, untuk mengurangi pemakaian tas kresek. Sebagai informasi, untuk membuat satu tas kresek, dibutuhkan setara 14 mililiter minyak mentah. Jadi selain masalah pasca produksi yaitu pengolahan sampah tas kresek, pengurangan pemakaian tas kresek juga bisa mengurangi konsumsi bahan bakar minyak. Jadi apabila anda ingin berbelanja, bawalah kresek yang sudah terpakai.Nah, bisakah anda menerapkannya ??
(Bunga Nurani)

Sampah Organik dan Non Organik



Sampah mungkin adalah barang yang sangat menjijikan, kotor, dan menimbulkan bau yang sangat menyengat bila sudah terlalu lama. Pernahkah kalian berpikir bahwa sampah yang menjijikan  tersebut masih dapat digunakan??
Sampah dibedakan menjadi dua, yaitu sampah organik dan sampah anorganik.
Sampah Organik
Sampah Organik adalah merupakan barang yang dianggap sudah tidak terpakai dan dibuang oleh pemilik/pemakai sebelumnya, tetapi masih bisa dipakai kalau dikelola dengan prosedur yang benar.Sampah organik adalah sampah yang bisa mengalami pelapukan (dekomposisi) dan terurai menjadi bahan yang lebih kecil dan tidak berbau (sering disebut dengan kompos). Kompos merupakan hasil pelapukan bahan-bahan organik seperti daun-daunan, jerami, alang-alang, sampah, rumput, dan bahan lain yang sejenis yang proses pelapukannya dipercepat oleh bantuan manusia. Sampah organik masih bisa dimanfaatkan menjadi kompos.

Sampah Anorganik
Sampah anorganik yaitu sampah yang terdiri dari bahan-bahan yang sulit terurai secara biologis sehingga penghancurannya membutuhkan waktu yang sangat lama. Sampah Anorganik berasal dari sumber daya alam tak terbarui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam seperti plastik dan aluminium. Contoh sampah dari sampah anorganik adalah: potongan-potongan / pelat-pelat dari logam, berbagai jenis batu-batuan, pecahan-pecahan gelas, tulang-belulang, kaleng bekas, botol bekas, bahkan kertas, dan lain-lain.